Padang, BERASA.ID– Pemasangan 18 titik Penerangan Jalan Umum (PJU) melalui pokok-pokok pikiran (Pokir) anggota DPRD Kota Padang H. Rusdi, S.T., M.T., di Kelurahan Banuaran Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, bukan sekadar menghadirkan cahaya di tengah permukiman. Kegiatan ini juga menjadi momentum menghidupkan kembali nilai gotong royong dan kebersamaan masyarakat Minangkabau.
Semangat barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang begitu terasa ketika warga RT 04 RW 11 menyambut pemasangan PJU, Minggu (18/10/2026).
Kaum bapak bahu-membahu melaksanakan gotong royong. Sementara itu, kaum ibu menyiapkan kolak ketan untuk dinikmati bersama. Suasana sederhana tersebut mencerminkan kuatnya tradisi kebersamaan yang masih terpelihara di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.
H. Rusdi, anggota Fraksi Demokrat DPRD Kota Padang dari Daerah Pemilihan Lubuk Begalung dan Bungus Teluk Kabung, hadir langsung meninjau pemasangan lampu jalan tersebut.
“Kita bangga dengan warga Banuaran, khususnya RT 04 RW 11. Pagi ini bapak-bapak melaksanakan gotong royong, sementara kaum ibu memasak kolak ketan. Kita berharap ke depan tidak ada lagi lokasi gelap di Banuaran,” ujar H. Rusdi.
Delapan Belas Titik PJU Terangi Banuaran
Sebanyak 18 titik PJU yang direalisasikan melalui Pokir H. Rusdi tersebar di sejumlah kawasan permukiman.
Rinciannya, lima titik di RT 04 RW 11, lima titik di RT 05 RW 11, empat titik di jalan utama RT 01 RW 12 dan RT 01 RW 13, serta empat titik lainnya di RT 01 RW 13.
H. Rusdi berharap fasilitas tersebut dapat meningkatkan kenyamanan masyarakat, terutama saat beraktivitas pada malam hari.
Ia juga mengingatkan warga agar ikut menjaga fasilitas umum. Apabila menemukan lampu PJU mati atau mengalami kerusakan, masyarakat diminta segera melapor untuk ditindaklanjuti.
Kolak Ketan, Simbol Kebersamaan Warga
Ada pemandangan menarik sebelum H. Rusdi meninjau lokasi pemasangan PJU. Ia terlebih dahulu duduk bersama warga menikmati kolak ketan hasil olahan ibu-ibu RT 04 RW 11.
Tidak ada sekat antara wakil rakyat dan masyarakat. Mereka menikmati hidangan sederhana sambil berbincang dalam suasana kekeluargaan.
Momentum tersebut mengingatkan pada falsafah Minangkabau, duduak samo randah, tagak samo tinggi, yang mengajarkan pentingnya kesetaraan, kebersamaan, dan saling menghargai.
Ketua RT 04 RW 11 Banuaran Nan XX, Saribulih, menyampaikan apresiasi atas perhatian H. Rusdi terhadap kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, berbagai aspirasi warga telah diperjuangkan melalui Pokir H. Rusdi, mulai dari pembangunan infrastruktur, rumah ibadah, pendidikan, hingga kegiatan kemasyarakatan.
“Alhamdulillah, kita tidak salah pilih. Selain tanggap dan peduli, Pak Rusdi cepat menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Lampu mati, jalan berlubang, dan berbagai kebutuhan warga lainnya selalu ditanggapi dengan cepat,” ujar Saribulih.
Banuaran Menyala, Gelak Tawa Anak-Anak Kembali Terdengar
Kehadiran lampu jalan ternyata membawa cerita menarik lainnya.
Selepas shalat Isya di masjid, anak-anak mulai meramaikan lingkungan permukiman. Mereka bermain, berolahraga, dan bercengkerama bersama teman sebaya di bawah cahaya PJU.
Gelak tawa anak-anak menghadirkan suasana yang mengingatkan pada kehidupan kampung tempo dahulu. Ketika permainan bersama dan interaksi langsung menjadi bagian dari keseharian anak-anak, jauh sebelum smartphone mendominasi waktu luang mereka.
Ketua Pos 7 Posyandu Cempaka Putih Banuaran, Zetri Murni, S.S., menyambut positif suasana tersebut.
“Gelak tawa mereka mengingatkan kita pada masa lalu. Maklum, pada masa itu memang belum ada gadget. Semoga hal ini bernilai positif bagi mereka untuk saling berinteraksi,” ujarnya.
Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa pembangunan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik. Tetapi juga dapat mendukung tumbuhnya kehidupan sosial masyarakat.
Dalam tradisi Minangkabau, kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian penting dari kehidupan bernagari.
Kini, melalui 18 titik PJU, Banuaran tidak hanya semakin terang. Semangat gotong royong, silaturahmi, dan keceriaan anak-anak turut mewarnai kehidupan masyarakat.
Sebuah gambaran sederhana tentang pembangunan yang berjalan beriringan dengan kearifan lokal: jalan menjadi terang, hubungan antarwarga semakin erat, dan tradisi kebersamaan tetap terawat. (*)
